Spectacular Natuna

kerja_kerja1gulung_celana1natuna1tipikal_pantai_di_natuna1Coba tanyakan orang Jakarta di mana letak Natuna? Pasti sebagian besar akan mengernyitkan dahi. Ternyata Natuna yang sangat kaya akan minyak mentah dan gas alamnya masih awam sekalipun di telinga orang-orang Indonesia. Selain itu, Natuna juga kaya hasil laut terutama ikan segar. Negara-negara tetangga sudah melakukan illegal fishing selama bertahun-tahun guna mendapat ikan dengan kualitas terbaik untuk kemudian dipasarkan ke Asia Tenggara dari pulau kecil ini. Jika pembaca jeli melihat berita di koran, tentunya juga akan tahu bahwa Natuna sedang diincar oleh perusahaan migas berskala internasional untuk dijadikan sumber penghasil migas juga untuk kawasan Asia Tenggara.

Natuna adalah kepulauan kecil di bagian Utara Kepulauan Riau. Natuna sendiri terdiri dari beribu-ribu pulau kecil yang tersebar di sekitarnya. Jika dilihat dari peta, Natuna hanya akan tampak seperti titik kecil. Lalu apa yang membawa saya sampai di titik kecil itu? Di sinilah ceritanya dimulai..

Kepergian saya ke Natuna adalah karena ditugaskan oleh kantor. Walaupun saya baru ditugaskan sehari sebelum keberangkatan, namun dengan mantap saya menyanggupi permintaan itu. Jiwa petualangan saya ternyata masih lebih besar ketimbang rasa kaget karena penugasan mendadak tersebut. Setelah berangkat dari bandara Hang Nadim Batam dan singgah sebentar di Bandara Pangkal Pinang, akhirnya saya dan seorang teman tiba di Ranai, ibukota Natuna. Sesampai di sana ternyata hujan deras sudah turun sejak kemarin, sehingga kami pun disambut dengan genangan air. Turun dari pesawat foker, kami menggulung celana dan berjingkat-jingkat menghindari air. Dalam hati saya bergumam, sepertinya ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Bandara Ranai bisa dibilang sangat kecil dan sangat tradisional karena pesawat hanya singgah pada hari-hari tertentu dan hanya ada 1- 2 maskapai penerbangan yang mendarat di sana. Saya pun harus berteriak dan berebut mengambil bagasi yang diturunkan satu per satu dari truk terbuka. Ternyata sistem nomor bagasi tidak berlaku di sini. Kemudian kami mengikuti arus dengan menumpang mobil orang. Teman kami yang seharusnya menjemput ternyata naik motor, sehingga dia menyerahkan kami kepada seorang supir dan menginstruksikan untuk menurunkan kami di suatu tempat bernama Ajo. Dengan pasrah kami mengikuti supir yang mulai mengangkut bagasi kami dan duduk manis bersama penumpang lain di mobil itu. Kami takjub dengan pemandangan laut biru bening di sepanjang jalan becek yang kami lalui. Supir dan penumpang lain mulai hangat bercakap-cakap dan menanyakan kota asal kami. Pasti kelihatan sekali kalau kami orang kota yang belum pernah ke Natuna karena ekspresi wajah kami yang selalu berubah-ubah antara bengong, bingung, dan takjub. Tidak lama, kami tiba-tiba diturunkan di sebuah rumah makan bernama Ajo. Dengan sigap, saya mencatat nomor telepon supir tadi. Dalam hati saya bergumam bahwa kami pasti membutuhkan dia selama di Natuna. Ternyata benar, setelah mengisi perut dan menunggu hujan yang tidak juga reda, kami memutuskan menelepon supir tadi dan membooking dia selama dua hari penuh selama kami ada di pulau ini.

Waktu kerja yang singkat mengharuskan kami bergegas mencari nara sumber untuk riset kami. Setelah bercakap-cakap dengan supir kami, Bang Andi, kami mulai mencari hotel untuk tempat menginap. Namun, saat itu kami kebetulan melewati sebuah kantor yang bisa menjadi nara sumber kami. Dengan antusias kami menghampiri kantor itu. Ternyata orang-orang Natuna sangat terbuka, mau mengalokasikan waktu, dan informatif. Dari satu orang nara sumber, kami bisa mendapatkan link ke nara sumber lain. Demikian seterusnya sampai waktu sudah menunjukkan jam makan malam. Dengan tubuh lelah namun puas, kami kembali ke rencana awal..mencari tempat menginap dan makan di sana. Namun, pekerjaan kami tidak selesai di situ karena kami harus membuat semua transkrip hasil wawancara tadi dan menghubungi beberapa calon nara sumber untuk besok. Kami bahkan belum sempat melihat keindahan Ranai..

Keesokan harinya kami bangun dengan segar. Seperti baterai yang sudah fully charged, kami siap bekerja kembali. Udara Natuna ternyata manjur untuk menghilangkan rasa penat dalam sekejap. Bang Andi sudah siap mengantar kami. Kali ini kami berpisah untuk mewawancarai nara sumber yang berbeda. Tujuannya supaya kami bisa mendapat sebanyak mungkin informan dalam waktu singkat. Hasilnya, sebelum matahari terbenam kami sudah bisa menyelesaikan semua wawancara. O iya, kami juga menyempatkan diri untuk melihat alam Natuna. Wow..pasti pada ga percaya kalau Natuna punya pemandangan spektakuler seperti Bukit Sindu dan bakal punya masjid yang kelak akan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara. Silakan liat di foto-foto narsis kami..hehehehehe..Kami juga sempat mencicipi menu seafood asli hasil Natuna yang segar. Masih ada lagi kawasan konservasi hutan di Gunung Ranai dan air terjun Temurun dan Air Bunyi yang katanya sangat indah dan alami, namun tidak sempat kami kunjungi. Sayang sekali, Natuna memang belum tersentuh orang-orang terdidik dan praktisi PR untuk mempromosikan pulaunya sebagai salah satu daerah wisata berkelas di Indonesia. Walaupun sudah ada brosur-brosur, majalah, dan CD tentang Natuna; ternyata itu tidak cukup untuk mendatangkan turis lokal maupun asing ke Natuna. Ironisnya, banyak penduduk yang belum melek pendidikan karena untuk sekolah, anak-anak pulau harus menempuh perjalanan beribu kilimoter dengan kapal tongkang/tradisional.

Hari terakhir di Natuna, ada perasaan sedih untuk meninggalkan pulau mungil ini. Pasti kami akan rindu sapaan-sapaan ramah penduduk di sini, padahal kami baru kenal mereka dua hari. Kami juga pasti akan merindukan pemandangan indah dan bau lautnya yang khas. Ada satu hal yang pasti tidak akan saya lupa, yaitu menunggu pesawat di bawah pohon rindang sambil makan bakso dan minum es teh manis. Yup, that’s right..it’s the most conventional yet refreshing airport waiting room in the world.. Ga bakal nemu deh di mana-mana. Beberapa menit sebelum memasuki pesawat, seorang teman baru kami yang siaran di salah satu radio di Ranai mengirimkan lagu untuk kami.. Katanya ini lagu supaya kami mengenang Natuna dan tidak lupa dengan pulau nan molek ini. Rasa haru langsung menyesap ke dalam dada kami.. Natuna, nantikan kedatangan kami lagi ya!

-asti-


About this entry